Tampilkan postingan dengan label Revelation. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Revelation. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 Juni 2015

MEMPERBESAR KAPASITAS

Belum lama ini, Tuhan mengingatkanku akan mimpiku sekitar bulan September 2012. Dalam keadaan tidur, di dalam mimpi saya sedang berada di sebuah dataran yang sangat luas dan begitu gersang. Saya memperhatikan tanah itu, kering dan pecah-pecah, terlihat bahwa tanah tersebut sudah lama sekali tidak disirami hujan. Keadaannya begitu menyedihkan. Seketika itu juga timbul hasrat dalam hati saya untuk menyirami tanah kering yang sangat luas itu dengan air yang sangat banyak. Namun ketika saya melihat tangan saya, saya sedang menggenggam sebuah gayung, dan ada ember kecil berisi air di dekat kaki saya –  ya, airnya hanya ada di sebuah ember kecil! Tiba-tiba suara seseorang menarik seluruh perhatian saya. Orang tersebut berkata kira-kira seperti ini, “Kamu belum bisa menyirami seluruh tanah ini, karena air yang kamu punya di dalam ember kecil ini tidak cukup untuk menyirami seluruh tanah ini”

Saya terbangun! Lalu merenungkan arti mimpi itu. Kuat didalam hati saya bahwa mimpi saya berbicara tentang kapasitas. Tuhan tahu bahwa hati saya rindu dipakai-Nya lebih besar lagi, tetapi kapasitas saya belum memadai. Saat itu saya bertanya kepada Tuhan, “Bagaimana memperbesar kapasitas saya?” Tetapi kemudian saya melupakannya…

Setelah lewat 2 tahun lebih, saya kembali bertanya kepada Tuhan pertanyaan yang sama, “Bagaimana memperbesar kapasitas saya?” Lalu saya merasakan didalam hati saya, Roh Kudus menerangkan:

3 PRINSIP HUKUM KAPASITAS

PRINSIP - 1: Tuhan memakai diri kita tergantung kapasitas kita.
Tuhan tidak akan memakai kita melebihi kapasitas kita. Sejauh mana Tuhan memakai kita, tergantung dari kapasitas kita. Ini adalah prinsip hukum kapasitas, yang ada dalam kehidupan sehari-hari yang juga terkait dengan prinsip Alkitab:

  • Sama seperti atlit binaragawan tidak akan mengangkat beban melebihi batas kemampuannya. Tuhan juga berkata bahwa Ia tidak akan menguji kita melebihi batas kemampuan kita (I Kor 10:13)
  • Sama seperti truk barang, diberi muatan sesuai kapasitas daya tampungnya. Jika melebihi kapasitasnya, muatannya akan terjatuh. Minyak dalam buli-buli berhenti mengalir setelah tidak ada lagi bejana untuk menampung minyak (2 Raj 4:1-7)

PRINSIP – 2: Kapasitas bisa diperbesar
Dalam Alkitab, Tuhan menerangkan bahwa kapasitas bisa diperbesar. Nanti kita akan melihat caranya.

PRINSIP – 3: Tuhan memperbesar kapasitas kita sedikit demi sedikit, bertahap, step by step.
Memperbesar kapasitas bukanlah instan atau melalui doa sekali dan bimsalabim kapasitas kita langsung membesar. Dengan kata lain, memperbesar kapasitas adalah PROSES!

CARA MEMPERBESAR KAPASITAS

  1. Membuka hati dan Biarkan Tuhan yang mengisi SELURUH hati kita

“Akulah TUHAN, Allahmu, yang menuntun engkau keluar dari tanah Mesir: bukalah mulutmu lebar-lebar, maka Aku akan membuatnya penuh.” (Mazmur 81:11)

Kita perlu membuka mulut rohani kita, bukan kecil-kecil atau sedikit-sedikit, tetapi lebar-lebar (menganga), maka Tuhan akan memenuhinya. Apa artinya? Kita harus membuka hati untuk Firman-Nya selebar-lebarnya dan biarkan Ia memenuhi hati kita dengan Firman-Nya. Kapasitas kita takkan membesar jika kita menutup hati untuk Tuhan. Banyak dari kita sering mendengar Firman tetapi mengapa kita tidak berubah? Karena kita menutup hati. Kita tidak mengizinkan Firman-Nya mengubah kita. Firman yang datang hanya berhenti di depan pintu dan kita menutup pintu bagi Dia. Atau mungkin kita sudah membuka hati, tetapi hanya beberapa celah yang kecil-kecil. Kita hanya mengizinkan Tuhan menerangi sebagian kecil hati kita.

Persilakan cahaya Firman-Nya menerobos masuk ke seluruh bagian hati kita, menerangi dan mengusir seluruh kegelapan! Maka apa yang terjadi? Saat Firman-Nya memenuhi seluruh hati kita, Tidak ada lagi tempat bagi ketakutan di hati kita. Tidak ada lagi tempat bagi kekecewaan. Tidak ada lagi tempat bagi iri hati. Yang ada hanyalah terang, iman yang teguh, pengharapan tanpa batas, kasih yang tak berkesudahan! Saat hati kita dipenuhi oleh hal-hal yang dari Allah, kapasitas hati kita membesar dan semakin besar!

“dan meminta kepada Allah Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Bapa yang mulia itu, supaya Ia memberikan kepadamu Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar. Dan supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus, dan betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang percaya, sesuai dengan kekuatan kuasa-Nya, yang dikerjakan-Nya di dalam Kristus dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati dan mendudukkan Dia di sebelah kanan-Nya di sorga,… Jemaat yang adalah tubuh-Nya, yaitu kepenuhan Dia, yang memenuhi semua dan segala sesuatu.” (Efesus 1:17-20,23)

Dikatakan bahwa Tuhan akan “memenuhi” jemaat-Nya yaitu kita. Artinya di dalam diri kita ada wadah yang memiliki kapasitas yang mau Tuhan isi atau penuhi! Dan jika Tuhan sudah memenuhi kita, jangan cepat puas! Saat kita berseru, ”More! More! More! Lebih lagi! Lebih lagi! Lebih lagi akan Engkau!” Maka Tuhan tidak bisa lagi memakai wadah kita yang lama, Ia akan memperbesar wadah dalam diri kita sehingga kita akan menerima yang lebih besar lagi!

  1. Setia dalam perkara kecil 
Ada 2 perumpamaan yang menarik dan kita bisa memperoleh pengertian yang lengkap.

Perumpamaan I.
Tentu kita ingat perumpaan tentang talenta (Matius 25). Sang Tuan memberi 5 talenta, 2 talenta, 1 talenta kepada 3 orang hambanya menurut kesanggupannya! Atau dengan kata lain menurut kapasitasnya! (Mat 25:15). Kita tahu bahwa hamba yang menerima 5 talenta mengembangkannya 2x lipat menjadi 10 talenta dan hamba yang menerima 2 talenta mengembangkan sehingga menjadi 4 talenta. Apa yang dikatakan tuannya kepada mereka?
“Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.”

Perumpamaan II adalah perumpamaan tentang uang mina (Lukas 19) juga mirip tetapi berbeda. Sang Tuan memberikan 10 mina kepada 10 orang hambanya, berarti setiap orang menerima 1 mina! Pada perumpamaan talenta, 3 orang hamba start-nya  berbeda. Tetapi pada perumpamaan mina, 10 orang hamba start-nya sama: masing-masing punya 1 saja! Lalu apa yang terjadi?

Hamba pertama, 1 mina menghasilkan 10 mina. Fantastis! Lalu apa kata Tuannya?
“Katanya kepada orang itu: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hamba yang baik; engkau telah setia dalam perkara kecil, karena itu terimalah kekuasaan atas sepuluh kota.”
Wow! Siapa menyangka bahwa karena setia dalam hal uang, malah dipercayakan kota! Bahkan hasil yang diperoleh dari mina tersebut menentukan jumlah kota yang akan dipercayakan. So, tugas harian kita yang sepele sebenarnya bertujuan untuk menghentar kita kepada perkara-perkara besar.

Hamba kedua, 1 mina menghasilkan 5 mina. Lalu ia dipercayakan 5 kota.

Dari 2 perumpamaan diatas kita mengambil kesimpulan bahwa barangsiapa setia dalam perkara KECIL, ia akan dipercayakan perkara yang BESAR. Kata KECIL dan BESAR menerangkan suatu ukuran kapasitas. Dan dari KECIL ke BESAR, adalah suatu pembesaran kapasitas!

Tanpa mereka sadari, saat mereka mengembangkan talenta dan mina mereka, saat itulah kapasitas mereka diperbesar!

      • Jika kita mengembangkan semua kemampuan yang kita punya, sekecil apapun itu, Tuhan akan membuatnya besar!
      • Jika kita bertanggungjawab dalam tugas-tugas kecil dan sepele, Tuhan akan mempersiapkan kita untuk kepercayaan-kepercayaan besar!
      • Jika kita jujur dan dapat dipercaya dalam duit-duit kecil, Tuhan akan percayakan kita duit-duit jutaan, milyaran, dan trilyunan!
      • Jika kita setia dalam perkara yang TAK TERLIHAT (saat teduh, doa, baca Firman, pujian penyembahan), maka Tuhan akan mempercayakan perkara yang TERLIHAT.

Lalu apa yang terjadi dengan yang tidak menjalankan talenta dan minanya? Mereka dicampakkan, dan talenta/minanya diberikan kepada yang memiliki paling banyak!

“Lalu katanya kepada orang-orang yang berdiri di situ: Ambillah mina yang satu itu dari padanya dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh mina itu. Kata mereka kepadanya: Tuan, ia sudah mempunyai sepuluh mina. Jawabnya: Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, dari padanya akan diambil, juga apa yang ada padanya.” (Luk 19:24-26)

Apa maksudnya: “Setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi”? Artinya setiap orang yang mempunyai kapasitas, kepadanya akan diberi. “Hati si pemalas penuh keinginan, tetapi sia-sia, sedangkan hati orang rajin diberi kelimpahan.” (Amsal 13:4)
      •   “Kelimpahan” berbicara tentang “sesuatu yang diisi”.
      •  “Hati orang rajin” adalah wadah yang memiliki kapasitas!
      •  “Hati si pemalas” adalah wadah yang berbolong. Penuh keinginan tetapi tidak bisa diisi apa-apa.

Jadi, kapasitas akan membesar jika kita Setia, Rajin mengembangkan, Jujur, Bertanggungjawab terhadap semua yang kita miliki saat ini yang dengan demikian mempersiapkan diri kita berdiri di hadapan raja-raja.

  1. Menjadi serupa dengan Yesus Kristus

Tahukah kita bahwa cara memperbesar kapasitas adalah proses peremukan dan penghancuran, proses pemurnian dan pengeratan, proses perendahan dan menjadi hamba, dan proses penyangkalan diri dan kematian akan diri sendiri?

“Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang." (Mrk 10:43-45)

“Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.” (Yoh 12:24)

Kapasitas erat hubungannya dengan hati dan karakter kita. Jika hati dan karakter kita semakin serupa dengan Kristus, sesungguhnya kapasitas kita semakin diperbesar.

      • Semakin kita Rendah Hati seperti Yesus
      • Semakin kita Mengasihi seperti Yesus

Tuhan menolong kita melalui menghadirkan proses-proses menyakitkan yang akan memurnikan kita, memperbaiki diri kita, membuat kita semakin serupa Kristus. Kita melihat berbagai contoh dalam Alkitab: Abraham, Yusuf, Musa, Daud, dan masih banyak lagi – sebelum Tuhan memakai mereka dengan luar biasa, mereka harus mengorbankan banyak hal, meninggalkan zona nyaman, dijual menjadi budak dan masuk penjara karena fitnah, dikhianati dan dikejar-kejar mau dibunuh sekalipun tidak bersalah, dan banyak lagi. Semua rangkaian proses itu ternyata memperbesar kapasitas mereka hingga mereka siap untuk melakukan perkara-perkara yang jauh lebih besar.

Apa proses dalam hidupmu saat ini? Ikutilah prosesnya Tuhan, jalani dengan kerendahan hati, miliki hati yang siap dibentuk, mati akan diri sendiri, maka someday, kita akan mengikuti jejak-jejak mereka untuk memuliakan Tuhan dengan perkara yang jauh lebih besar.

“Whenever God means to make a man great, He always breaks him in pieces first” – Charles Spurgeon

            Segala kemuliaan hanya bagi Tuhan!

RL, Juni 2015

Rabu, 03 Juni 2015

POHON HIASAN

Alkitab mengumpamakan orang percaya seperti pohon yang berbuah (Contoh Mazmur 1:3, Yeremia 17:8). Dikesempatan lain, orang percaya juga diumpamakan seperti ranting, sedangkan pokoknya adalah Tuhan Yesus (Yoh 15:1-3). Intinya adalah Tuhan mau kita berbuah dengan cara melekat pada-Nya, pada Firman-Nya, mengandalkan Dia. Tanpa Dia kita akan kering, mati dan takkan berbuah.

KUALITAS & KUANTITAS BUAH yang kita hasilkan bergantung pada bagaimana hubungan kita dengan Tuhan.

  • Yoh 15:4-7. Jika kita Tinggal di dalam Yesus (pokok anggur) --> kita akan berbuah banyak.
  • Mzm 1:2-3. Jika kita cinta Firman & merenungkannya siang & malam --> kita akan berbuah pada musimnya.
  • Yer 17:5-8. Jika kita senantiasa mengandalkan Tuhan --> kita akan berbuah dan tidak akan mengalami kekeringan.
  • Yeh 47:12. Pohon yang mendapat pasokan dari tempat kudus --> pohon itu akan berbuah & tak habis-habisnya. Buahnya menjadi makanan, daunnya menjadi obat-obatan.

Apa artinya? Dia adalah Sumber. Begitu kita terputus dari Sumber, kita mati, menjadi kering & berhenti menghasilkan buah.

Tapi bukankah banyak orang yang terputus dari Sumber tapi mereka tetap berbuah?

Ada 2 macam pohon. Pohon pertama adalah POHON HIDUP – pohon yang menghasilkan buah karena ia melekat pada Sumber. Buahnya adalah hasil dari melekatnya dia dengan Sang Sumber. Pohon kedua adalah POHON MATI (pohon hiasan). Ia pohon yang mati tapi diranting-rantingnya ditempelkan buah-buahan palsu/tiruan/imitasi. Di pemandangan manusia, kedua-duanya memiliki buah. Bisa jadi pohon kedua malah dipuji-puji karena hiasan-hiasannya begitu indah.

Tetapi dimana letak perbedaannya? Inilah beberapa diantaranya.

1. Pohon hidup MELEKAT pada Sumber Kehidupan. Pohon mati TERPUTUS dari Sumber.

2. Pohon hidup mungkin awalnya kelihatan kecil sekali, tetapi tidak apa-apa, karena perlahan tapi pasti ia mengalami PERTUMBUHAN. Pohon mati tampaknya sudah besar, sudah indah, tetapi ukurannya sampai disitu saja. Ia indah tetapi TIDAK BERTUMBUH.

3. Pohon hidup MENGALAMI PROSES PEMBERSIHAN yang menyakitkan berulang kali, ada bagian-bagian yang dikerat/dipotong supaya ia makin banyak berbuah. Pohon mati (hiasan) sudah indah dipandang & dipuji-puji. Tetapi ia TIDAK MENGALAMI PROSES seperti halnya pohon hidup.

4. Pohon hidup memiliki buah yang ASLI. Buah tersebut adalah HASIL dari melekatnya dia dengan Sang Sumber & proses pembersihan yang ia alami. Pohon mati (hiasan) memiliki buah IMITASI/TIRUAN yang ditempel/digantung pada dirinya, BUKAN HASIL dari melekatnya dia dengan Sumber.

5. Pohon hidup selalu MEMBERI KEHIDUPAN - buahnya menjadi makanan, daunnya bisa menjadi obat, dahan-dahannya menjadi naungan yang menyejukkan. Itulah makna kehidupannya, ia menjadi berarti karena hidupnya memberi hidup pada orang lain. Pohon mati (hiasan) TIDAK MEMBERI kehidupan. Ia hanya menyenangkan untuk dipandang. Semua atribut yang ia kenakan adalah imitasi, dan suatu saat akan ia tanggalkan saat acara pesta telah usai. Ia sendiri akan dibuang & dicampakkan.

6. Pohon hidup memiliki BENIH untuk kehidupan selanjutnya. Dampaknya bukan hanya dirasakan untuk generasi saat ini, tetapi juga generasi yang akan datang. Pohon mati TIDAK MEMILIKI BENIH.

7. Pohon hidup BERAKAR dengan kuat, Pohon mati (hiasan) TIDAK BERAKAR. Saat angin kencang datang, pohon hidup tetap bertahan, pohon mati terhempaskan.

Untuk menjadi pohon yang hidup, kita harus melekat pada Sumber (Tuhan Yesus), berakar di dalam Firman-Nya, bersedia dibersihkan/ditegur/dikoreksi/mau berubah, mengetahui makna kehidupannya yaitu bermanfaat bagi orang lain, dan meninggalkan warisan selanjutnya. Kalau saat ini ukurannya masih kecil, gak apa-apa yang penting kita terus bertumbuh. Jangan tergiur untuk kelihatan besar, punya buah, dan dipuji-puji orang (baca: punya pelayanan yang besar, yang hebat, yang banyak, dan dipuji orang). Kalau cuma sekedar supaya kelihatan "punya buah" - pohon hiasan juga bisa kok! ^____^

"...sebab diluar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar." (Yoh 15:5b-6)

RL, Mei 2015

Senin, 02 Maret 2015

JESUS, MY DREAM MAKER



Tahun 2008 saat saya mengunjungi Israel untuk pertama kalinya, saya mengalami suatu pengalaman spiritual yang sangat membekas sampai saat ini, yaitu dimana Tuhan memberi saya sebuah visi/mimpi/impian yang lebih besar dari diri saya sendiri.

Hampir 7 tahun sudah, dan perjalanan menuju penggenapan visi itu semakin disingkapkan tahap demi tahap. Selama perjalanan ini banyak hal yang Tuhan nyatakan diluar pemahaman saya sebagai manusia. Saya mengamati perjalanannya banyak berliku dan berbatu memang. Jalannya terkadang naik dan sampai ke padang rumput hijau, tetapi terkadang jalannya menurun ke lembah kekelaman. Ada kalanya saya berlari dengan begitu berapi-api, ada kalanya saya terjatuh dan menjadi lelah. Tetapi saya bersyukur kepada Tuhan yang setia – Jesus, my dream maker!

Tahun ini ayat emas yang saya ambil menjadi peneguhan bagi saya untuk bangkit kembali dan melakukan apa yang Tuhan perintahkan.

Di Alkitab, orang-orang seperti Abram, Musa, Yusuf bin Yakub, Daud, Gideon, Nehemia, dan masih banyak lagi, yang mendapat visi dari Allah umumnya adalah orang-orang yang penuh keterbatasan. Tetapi orang-orang ini meresponi panggilan Tuhan, melewati jalan berliku yang menakutkan dan menyakitkan selama bertahun-tahun sampai pada akhirnya mereka sampai pada penggenapan visi itu. Mereka menantang iman mereka untuk melihat yang belum kelihatan, melangkah dengan berpegang pada janji Tuhan, mengorbankan dan meninggalkan banyak hal, dan terus menanti-nantikan waktu Allah.

Apa visi Allah dalam hidupmu? Apa impian yang Tuhan taruh dalam hatimu?

Setiap kita memiliki impian pribadi, tetapi saya percaya bahwa impian yang Tuhan beri itu berbeda dari impian pribadi yang timbul dari hasrat diri sendiri! Apa bedanya?

Dalam saat teduh saya bersama Alkitab dan Roh Kudus pada akhir Desember 2014, Tuhan menyatakan melalui Alkitab yang saya baca saat itu mengenai ciri-ciri visi dari Allah dan cara mewujudkannya:
  1. Visi dari Allah dimulai dengan perjumpaan secara pribadi dengan Allah dan mengenal Allah.

Ini pembeda pertama dengan impian pribadi. Impian dari Tuhan berasal dari hubungan dengan Tuhan. Untuk itu kita perlu memiliki hubungan yang intim dengan Tuhan. Harus ada suatu “perjumpaan” secara pribadi dengan Tuhan didalam Firman-Nya, doa, dan pernyataan Roh Kudus.
   

2. Visi dari Allah selalu mengenai kepentingan banyak orang bagi kebaikan mereka.


Visi dari Allah bukan untuk kepentingan kita untuk membuat kita makin kaya, makin terkenal, makin tinggi. Semata-mata untuk kepentingan banyak orang. Kita bisa menguji poin 2 ini terhadap impian kita. Tuhan tidak tertarik memakai kita supaya kita menjadi kaya dan populer, tetapi supaya kita bisa melayani lebih banyak orang dengan lebih baik lagi!


3.      Visi dari Allah melalui kita adalah jawaban bagi banyak orang.

Tuhan menghadirkan visi-Nya kepada kita untuk kebutuhan orang lain pada saat ini atau yang akan datang. Visi dari Allah hadir untuk menjawab permasalahan mereka dan menolong mereka menemukan jalan keluar.


4.      Visi dari Allah lebih besar dari diri kita sendiri.

Umumnya respon dari orang yang menerima Visi dari Allah adalah merasa bahwa visi itu terlalu besar dari dirinya. Ya itu benar sekali. Karena Allah itu besar, maka Impian dari Allah yang dititipkan kepada kita bukan impian kecil-kecilan. Meskipun impian itu kelihatan begitu besar, tetapi Tuhan yang lebih besar dari impian itu, akan memampukan anak-anak-Nya untuk mencapai impian tersebut.


5.   Visi dari Allah harus memuliakan Allah dan membawa orang mengenal Allah, bukan memuliakan diri kita.

Goal atau tujuan dari impian dari Allah untuk kemuliaan nama Tuhan. Uji impian kita, apakah impian kita memuliakan Allah atau diri kita? Karena impian itu berasal dari Allah, impian itu haruslah tentang Allah dan memuliakan Dia. Jika impian itu untuk kemuliaan diri kita, maka impian itu adalah impian manusia yang lahir dari keangkuhan hidup semata.


6.  Visi dari Allah perlu dibagikan kepada orang-orang yang bisa mendukung kita.

Kita membutuhkan partner yang mendukung kita mencapai visi, karena itu kita perlu membagikannya kepada orang-orang yang tepat. Mereka haruslah orang-orang yang mengasihi Tuhan, dibakar oleh gairah akan Tuhan, memiliki kerendahan hati, dan memiliki impian dari Allah juga. Membagikan impian kita kepada orang yang tepat akan meneguhkan kita saat kita dalam keadaan lemah. Sebaliknya, membagikan impian kita kepada orang yang tidak tepat, akan melemahkan kita dan memadamkan api yang kita miliki. Seperti 10 Pengintai pada zaman Musa melemahkan semangat bangsa Israel akan negeri impian yang Tuhan janjikan pada merekam atau seperti kakak-kakak Yusuf yang mencela mimpi yang Tuhan taruh di hatinya.


7.  Mewujudkan visi dari Allah tidak luput dari tantangan dan rintangan tetapi Tuhan akan menyertai dan melakukan mujizat-Nya asalkan kita bekerjasama dengan-Nya.

Bukan berarti karena impian itu dari Tuhan maka jalan kita mulus dan semuanya menjadi mudah. Tuhan tidak pernah menawarkan kita hidup yang mudah, melainkan hidup seorang pemenang yang dibentuk dari mengatasi berbagai kesulitan, tantangan dan menang atas semua proses dan ujian iman yang Tuhan izinkan kita alami. Dalam menghadapi segala bentuk tantangan itulah Tuhan menyatakan penyertaan-Nya, berkat-Nya, mujizat-Nya, perlindungan-Nya, rahmat-Nya, tuntunan-Nya sehingga kita keluar sebagai pemenang. Yang penting, JANGAN PERNAH MENYERAH!


8.  Mewujudkan visi dari Allah bukan dimulai saat hal besar sudah kita miliki, tetapi dimulai dari apa yang ada pada kita, sekalipun itu kelihatannya kecil karena Tuhan sanggup memakai hal kecil untuk menghasilkan dampak yang besar.

Tuhan senang menyatakan kebesaran-Nya melalui hal kecil dan keterbatasan yang kita miliki. Karena itu kita tidak boleh kecil hati dengan keterbatasan kita saat ini. Justru melalui kelemahanlah kuasa-Nya menjadi sempurna. Tuhan memakai Abram yang sudah mati pucuk untuk menghasilkan bangsa yang besar. Kita harus memulainya melalui apa yang kita miliki saat ini, dengan setia mengembangkannya, dan Tuhan yang akan memberi pertumbuhan!


9.   Mewujudkan visi dari Allah kita mutlak membutuhkan pimpinan Tuhan senantiasa. Jangan lepas dari Tuhan.

Simson nyaris gagal mencapai impian yang Tuhan beri dalam hidupnya, jika saja ia tidak mau bertobat. Beruntung ia bertobat dan menggenapi target Tuhan dalam hidupnya sekalipun sedikit berakhir tragis. Jika tidak berhati-hati, kita riskan untuk gagal dalam mencapai impian yang Tuhan beri. Bukankah musuh mengintai setiap saat untuk menggagalkan kita dengan segala macam daya dan upaya? Karena itu kita perlu terus melekat pada Tuhan dan berpegang pada-Nya setiap hari, setiap saat, melewati step by step setiap anak tangga proses kehidupan untuk naik ke tingkat yang lebih tinggi.


10.  Tuhan akan mengutus orang-orang untuk membantu dan memperlengkapi kita.

Saya bersyukur bahwa Tuhan tidak membiarkan kita berjalan sendiri. Selain Roh Kudus-Nya yang selalu beserta kita, Tuhan juga mengirim bala bantuan dari hamba-hamba-Nya untuk menolong dan mempersiapkan kita. Beberapa diantaranya mungkin adalah orang rohani, beberapa lagi adalah orang sekuler. Sebagian diantaranya menyenangkan kita, sebagian lagi memperlengkapi kita dengan cara-cara yang mungkin kurang kita sukai. Tetapi apapun itu, pada akhirnya kita akan menyadari bahwa Tuhan menaruh orang-orang di dalam hidup kita bukan secara kebetulan tetapi untuk menghentar kita menuju kepada rancangan yang telah Tuhan persiapkan.


11.  Visi dari Tuhan akan terwujud saat kita berani membayar harga yang mahal, meninggalkan zona nyaman kita, dan melangkah bersama Tuhan.

Semua hal dalam hidup ini memiliki harga, dan untuk memilikinya atau mendapatkannya ada harga yang harus dibayar. Kalaupun kita memperoleh keselamatan secara gratis dengan iman, itu karena Tuhan Yesus Kristus telah membayar harga yang sangat mahal dengan darah-Nya di kayu salib untuk menebus kita dari segala dosa. Abram harus meninggalkan rumah bapanya, Yusuf harus membayar harga ketaatannya, Nehemia harus meninggalkan posisinya yang nyaman. Impian dari Tuhan menuntut harga mahal yang harus berani kita bayar, tetapi semua itu takkan sebanding dengan mahkota yang Tuhan sediakan. Harga mahal yang harus dibayar itu adalah penyangkalan daging kita terhadap dosa, mengorbankan air mata dan perasaan demi sebuah ketaatan, membayar berpuluh-puluh atau beratus-ratus jam atau bertahun-tahun di dalam ketekunan dan kesetiaan kita, harta dan tenaga yang harus dicurahkan, dan masih banyak lagi.


12.  Lakukan sekarang!

Jika kita tidak melakukannya sekarang, kita terjebak dalam penundaan. Penundaan adalah pencuri yang sangat berbahaya, yang dapat merampas bertahun-tahun kehidupan kita tanpa melakukan sesuatu yang berarti dan membawa kita ke jurang penyesalan. Joyce Meyer berkata penundaan adalah musuh dan sangat menipu. Seorang bijak pun berkata, “Jika kita terus menanti waktu yang tepat untuk melakukan segala sesuatu, pada akhirnya kita tidak akan melakukan apa-apa.”


Saya berdoa, tahun ini akan menjadi tahun penggenapan impian Tuhan dalam hidup saya dan saudara. Amin!


Faithful is He Who is calling you [to Himself] and utterly trustworthy, and He will also do it [fulfill His call by hallowing and keeping you].” (1 Tess 5:24 – AMP)


“Itulah sebabnya aku menderita semuanya ini, tetapi aku tidak malu; karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga pada hari Tuhan.” (2 Tim 1:14)


RL, Maret 2015