Tampilkan postingan dengan label Wisdom. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisdom. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 Juni 2015

MENGUBAH FOKUS


Jangan fokus pada besarnya masalah, fokuslah pada pertumbuhan rohani.
(Maka kita akan tahu cara menyelesaikan masalah)

Jangan fokus pada kegagalan, fokuslah pada cara memperbaiki diri.
(Maka kita akan mencapai keberhasilan)

Jangan fokus pada besarnya tantangan, fokuslah pada besarnya kuasa Tuhan.
(Maka kita akan menjadi pribadi yang optimis)

Jangan fokus pada kesalahan orang lain, fokuslah pada kebaikan-kebaikannya.
(Maka kita akan hidup dalam damai sejahtera dan tanpa kepahitan)

Jangan fokus pada hidup di dunia, fokuslah pada kehidupan kekal.
(Maka kita akan luput dari kebinasaan yang akan menimpa seluruh dunia kelak)

Jangan fokus pada menerima / mendapat, fokuslah pada hidup yang memberi.
(Maka kita akan menemukan makna / arti kehidupan)

Jangan fokus pada kepentingan diri sendiri, fokuslah pada kepentingan orang lain.
(Maka hidup kita akan bertumbuh dan berbuah)

Jangan fokus pada masa lalu, fokuslah pada masa depan.
(Maka kita akan mencapai banyak hal besar / meraih pencapaian-pencapaian terbaik di depan kita)

“… Karena kami tidak mempunyai kekuatan untuk menghadapi laskar yang besar ini, yang datang menyerang kami. Kami tidak tahu apa yang harus kami lakukan, tetapi mata kami tertuju kepada-Mu."
(II Taw 20:12)

Sebab mataku tertuju pada kasih setia-Mu, dan aku hidup dalam kebenaran-Mu.”
(Mzm 26:3)

RL, Maret 2015


Jumat, 30 Januari 2015

HATI (Bagian 2)


Kita bilang kita mengiring Tuhan dan hidup untuk Tuhan...
Tetapi hati kita melawan kehendak-Nya melalui ketidaktaatan kita

Kita bilang kita rajin mencari Tuhan dengan berbagai aktivitas rohani...
Tetapi hati kita tidak sungguh-sungguh merindukan Pribadi-Nya

Kita bilang kita melayani untuk Tuhan...
Tetapi hati kita sombong karena kita mencuri kemuliaan nama-Nya

Kita bilang hati kita adalah milik Tuhan...
Tetapi hati kita keras, bebal, dan tidak rela dibentuk

Kita bilang kita mengasihi Tuhan...
Padahal...

Waktu kita tidak taat, kita mendukakan hati-Nya
Waktu kita suam, kita memedihkan hati-Nya
Waktu kita tidak tulus, kita melukai hati-Nya
Waktu hati kita keras dan tegar tengkuk, kita menghancurkan hati-Nya

Mengasihi Tuhan bukan dimulai dari apa yang nampak oleh mata...
Mengasihi Tuhan dimulai dari HATI.

Kita mengasihi Tuhan saat hati kita memilih untuk Taat.

Kita mengasihi Tuhan saat hati kita sungguh-sungguh merindukan Dia dan mencari tahu apa rindu-Nya..

Kita mengasihi Tuhan saat hati kita murni dan tulus kepada-Nya.

Kita mengasihi Tuhan saat hati kita lembut dan rela dibentuk.

Karena Tuhan mencari HATI

"Ketika mereka itu masuk dan Samuel melihat Eliab, lalu pikirnya: "Sungguh, di hadapan TUHAN sekarang berdiri yang diurapi-Nya."
Tetapi berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: "Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.""
(1 Samuel 16:6-7).

RL, Januari 2015

HATI (Bagian 1)

Tahukah kita?

Jika hati kita sedang bermasalah, persembahan maupun pelayanan kita tak berkenan di hadapan Tuhan.

Banyak pelayan Tuhan yang pelayanannya tampak luar biasa, tapi ia mempertahankan hati yang tidak benar di hadapan Tuhan.

Sayang sekali, Tuhan tidak suka dengan persembahan & pelayanan dari pribadi yang hatinya bermasalah.

Karena persembahan yang paling menyenangkan hati Tuhan adalah hati yang merendah, hati yang tunduk, hati yang bertobat.

Tuhan mencari hati kita, melebihi dari apapun juga yang bisa kita lakukan untuk Dia!

"Engkau tidak berkenan kepada kurban sembelihan; sekiranya aku mempersembahkan kurban bakaran, Engkau tidak menyukainya.
Kurban bagi Allah adalah hati yang remuk redam, hati yang tunduk dan bertobat tidak Kautolak." (Mzm 51:18-19 BIS)

RL, Januari 2015

Rabu, 13 Agustus 2014

SIBUK



SIBUK. Kita sibuk karena mengejar kesuksesan & nama besar, mencapai prestasi, mengumpulkan pundi-pundi uang, membangun rumah, memburu posisi, dll

Kita berlari sedemikian kencang, dengan energi penuh, meraih semua yang bisa dipegang, tanpa henti. Sampai-sampai kita melupakan banyak hal.

Kita lupa berhenti sejenak dan merenungkan perkara-perkara yang jauh lebih penting, yang telah kita lewatkan.

Kita melupakan tujuan hidup yg sesungguhnya: mengejar perkara kekal bukan perkara fana, mengumpulkan harta abadi bukan harta yang mudah layu.

Kita melupakan Tuhan, rencana-Nya, dan pekerjaan-Nya. Kita sibuk dengan diri kita, rencana kita, dan pekerjaan kita.

Kita juga lupa bahwa hidup bukan untuk mengumpulkan melainkan untuk berbagi. Kita lupa menoleh pada orang-orang disekitar kita yang membutuhkan uluran tangan kita.

Kita lupa membangun hubungan yang tulus & penuh cinta. Meluangkan waktu bersama orang-orang yang kita kasihi, bercengkerama & bermain bersama mereka.

Kita lupa menjaga kesehatan kita dan memberi penyegaran pada jiwa kita. Padahal tubuh dan jiwa kita perlu diperbarui setiap hari.

Kita sibuk menghitung berapa banyak yang bisa kita peroleh tetapi lupa menghitung berapa banyak yang telah kita terima. Akhirnya kita lupa bersyukur.

Makna kehidupan tidak didapat dari harta yang melimpah, prestasi yang luar biasa, nama besar, posisi tinggi, dll.

Makna kehidupan diperoleh dari menjalani kehidupan bagi rancangan Tuhan, hidup didalam kasih, suka berbagi, menjalin hubungan, & menikmati kehidupan.

Hari ini kita yang sibuk diingatkan untuk tidak lupa. Supaya disaat menutup mata untuk yang terakhir kalinya kita tidak berada didalam penyesalan.

Melainkan kita bisa menutup mata dengan tenang & menghembus nafas terakhir seraya berkata,"Tugasku telah selesai, Tuhan. Terima kasih untuk hidup yang Kau beri"
Kita kembali pada-Nya dengan senyum, perasaan puas dan penuh damai.

Hidup ini singkat, jangan kehilangan makna kehidupan.

RL, Maret 2014

Rabu, 02 Juli 2014

KETULUSAN



Ada suatu Realita Kehidupan yang menyedihkan yang terjadi di bawah matahari:
Hati seseorang memang tidak bisa dipaksa untuk berubah, kecuali ia sendiri yang mau mengubahnya...
Ada orang-orang tertentu yang:
Tidak peduli seberapa sering kita berbuat baik kepada mereka,
Tidak peduli seberapa banyak kita menolong mereka,
Tidak peduli seberapa sering kita ada saat mereka didalam kesukaran,
Tidak peduli seberapa banyak kita mendukung mereka untuk menjadi lebih baik,
Mereka takkan mengasihi kita!

Itulah sebabnya beberapa orang akhirnya berhenti berbuat baik kepada orang-orang yang tidak tahu berterima kasih.

Perbuatan baik yang dilakukan dengan mengharap pamrih, memang akan berujung pada kekecewaan.

Untuk berbuat sesuatu yang baik, tidak perlu mengharap pemberian jasa dari manusia. Karena upah dari Tuhan jauh lebih mulia daripada segala ucapan terima kasih, pujian, sanjungan, dan penghargaan manusia.

Itulah pengharapan dan damai sejahtera yang membuat kita tenang dan ikhlas.

"Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya." (Kolose 3:23-24).

RL, Des 2013

MENGHAKIMI



Manusia melihat, menilai & mengambil kesimpulan menurut apa yang tampak mata.

Yang sebenarnya hanya Tuhan yang tahu karena Ia juga melihat yang tidak tampak oleh mata, yaitu semua yang ada di dalam hati manusia dan semua yang terjadi yang tidak diketahui manusia.

Kita tidak tahu semuanya...
Kita hanya mengetahui yang nampak mata...
Tuhanlah yang mengetahui semuanya!

Terkadang fakta yang kita lihat & kabar yang kita dengar bukanlah kebenaran yang sesungguhnya. Terkadang kebenaran yang sesungguhnya justru adalah hal-hal yg tidak kita lihat & yang belum kita ketahui.

Mungkin inilah sebabnya kita sebaiknya tidak terlalu cepat mengambil kesimpulan dan menghakimi orang lain, karena bisa jadi penilaian dan kesimpulan kita selama ini ternyata salah.

Hal yang paling memalukan dan mengerikan adalah pada saat penghakiman akhir di hadapan Tuhan, dimana Tuhan membuka semuanya dan seseorang dipermalukan, dinyatakan bersalah, dan dihakimi oleh Tuhan karena penilaian dan kesimpulannya terhadap orang lain yang ia hakimi selama di dunia ternyata keliru!

"Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu." (Mat 7:1-2).
"Kamu menghakimi menurut ukuran manusia..." (Yoh 8:15).

"Janganlah menghakimi menurut apa yang nampak, tetapi hakimilah dengan adil."" (Yoh 7:24).

RL, Des 2013

Minggu, 04 Mei 2014

KUATIR VS BERANI



Rasa kuatir adalah hal alamiah yang dirasakan setiap manusia. Tetapi dikuasai kekuatiran dan hidup dalam kekuatiran adalah PILIHAN.

Kita kuatir karena memikirkan banyak hal yang bukan bagiannya kita, melainkan bagian-Nya Tuhan.
Lucunya kita justru tidak memikirkan dan melakukan apa yang menjadi bagian kita :)

Hidup dalam kekuatiran merampas seluruh energi & sukacita dalam hidup kita sehingga kita kehilangan arah & melewatkan banyak kesempatan besar.

Secara manusia biasa, kita pantas untuk kuatir melihat keadaan dunia yang tidak menentu dan tanpa kepastian.

Tetapi hanya ada 1 yang tetap teguh selama-lamanya yaitu Firman Tuhan. "Langit dan bumi akan berlalu tetapi Perkataan-Ku tidak akan berlalu"

Sekalipun gunung-gunung beranjak dan bukit-bukit bergoyang tetapi kasih setia-Nya dan perjanjian-Nya tetap teguh sepanjang masa. Bukankah ini ajaib?

Hanya ada 1 cara untuk kita bisa hidup bebas dari kekuatiran, yaitu dengan mempercayai Firman Tuhan. Dalam Firman-Nya ada kepastian & jaminan!

Semakin kita mengenal Tuhan – pribadi-Nya, kasih-Nya, kuasa-Nya, rancangan-Nya - semakin kita bebas dari kekuatiran.

Hidup dengan Tuhan, kita tetap alami masalah, tetapi ada jaminan bahwa kita akan keluar sebagai pemenang.

Mengapa tetap alami masalah? Tuhan melatih kita melalui masalah. Masalah hanyalah alat latihan untuk kita.

Melalui masalah kita juga bisa mengalami dan menyaksikan kemuliaan Tuhan, dan membuktikan bahwa Tuhan kita hidup dan berkuasa!

Tuhan mau setiap anak-anak-Nya bukan hanya digendong dan ditimang, tetapi berperang, berlari, dan terbang bersama Dia!

Tuhan mau kita menjadi BERANI. Berani adalah salah 1 sikap mental pemenang. KEBERANIAN orang percaya lahir dari IMAN YANG TEGUH kepada Tuhan.

KEBERANIAN melepaskan kuasa. KEBERANIAN melahirkan gebrakan/dobrakan besar. KEBERANIAN menghasilkan terobosan.

Tangan Tuhan ada di depan, menuntun langkah kita. Tangan Tuhan ada di belakang, menjadi sandaran/backing-an kita.

Tangan Tuhan ada di bawah, siap menangkap jika kita jatuh. Tangan Tuhan ada di atas, memberkati kita.

KEBERANIAN membuat kita mencapai apa yang tadinya tidak mungkin. KEBERANIAN adalah peluncur untuk kita melesat ke masa depan.

KEBERANIAN dari iman yang membuat Petrus berjalan diatas air, yang membuat Daud mengalahkan raksasa, yang membuat Daniel masuk ke goa singa dan yang membuat murid-murid Kristus tak terhentikan.

KEBERANIAN yang membawa seekor anak rajawali untuk terbang ke langit luas menggapai mimpi tanpa batas!

Karena Tuhanku hidup dan berkuasa, aku tak perlu kuatir.

Kita BERANI karena dasar kita tak tergoyahkan - Firman Tuhan!

RL, Maret 2014