Kamis, 30 Mei 2013

KENYANG DI RUMAH TUHAN!


[Menjawab pertanyaan: Kenapa saya ogah beribadah? Kenapa ibadah itu membosankan dan saya merasa nggak dapet apa-apa? Apa beribadah itu ada gunanya? Gimana mendapat berkat yang terbaik di dalam ibadah?]

Ironis sekali saat melihat realita yang terjadi pada mereka yang katanya “anak Tuhan” tapi:
  1. Ogah untuk beribadah, karena merasa ibadah nggak ada gunanya.
  2. Merasa lebih asyik dan lebih berguna ke tempat lain daripada ke rumah Tuhan.
  3. Merasa tidak butuh ibadah, melainkan menyangka Tuhanlah yang membutuhkannya datang beribadah (Ough!).
  4. Kalaupun beribadah, mereka datang kosong, pulang pun kosong. Tidak ada perubahan. Begitu sampe rumah, ditanya “kamu dapat berkat apa di ibadah?”. “Waduh, lupa!”. Orang yang seperti ini lama-lama jadi jenuh sendiri untuk beribadah.
  5. Berpikir tidak perlu terlalu aktif, apalagi melayani? Mikir 100x dulu deh. Yang penting sudah menjalani kewajiban sebagai orang Kristen, cukup!
  6. Berpikir bahwa ibadah itu hanya kewajiban aja, tapi nggak mengasyikkan.
  7. Tahu ibadah itu perlu. Tapi begitu ditanya, “gunanya apa?” Mereka nggak bisa jawab… =_=
Orang-orang seperti diatas, tidak menemukan manfaat ibadah. Apa betul ibadah itu nggak ada gunanya? Atau kita yang keliru memahami ibadah? Sejatinya, kitalah yang keliru dalam beribadah. Kalo kamu mau menikmati berkat yang luar biasa dalam ibadah, kamu perlu baca tulisan ini. Siap?
MAZMUR 65:5 berkata (baca dan pahami baik-baik),

“Berbahagialah orang yang Engkau pilih dan yang Engkau suruh mendekat untuk diam di pelataran-Mu!
Kiranya kami menjadi kenyang dengan segala yang baik di rumah-Mu, di bait-Mu yang kudus.”

  1. Ternyata Tuhan memilih dan menyuruh kita mendekat dan diam di pelataran Tuhan!
-          Ini hak istimewa sebagai anak Allah!
-          Tuhan itu mau dekat sama kita – punya hubungan yang dekat sama kita! Kita keliru kalau menyangka Tuhan mencari persembahan kita. Yang Tuhan cari dalam hidup kita adalah: HUBUNGAN! Mengapa? Simple jawabannya, karena Dia mengasihi kita! Lah trus, apa untungnya buat kita? Baca terus ya…
-           Mendekat untuk diam di pelataran-Nya. Apa yang dimaksud dengan “diam”? Diam disini bukan pasif (ga melakukan apa-apa). Diam disini adalah tidak beranjak! Saat kita mendekat pada Tuhan, Ia berkata, “Jangan beranjak! Tetap disini. Aku mau memberkatimu!”
-          Saat kamu datang beribadah, ingat: TUHAN MENCARI HUBUNGAN! Jadi, PUJIAN DAN PENYEMBAHAN adalah saat yang paling baik untuk kamu menjalin hubungan sama Tuhan! So, nikmatilah Pujian dan Penyembahan. Ucapkan syukur pada Tuhan. Berkata-katalah kepada-Nya. Pujilah kebesaran-Nya. MULUT HARUS TERBUKA! Ekspresikan hubungan itu, kita bisa mengangkat tangan, atau bertepuk tangan saat memuji Tuhan.
-          Saat mendekat pada Tuhan, kita nggak boleh datang dengan tangan hampa! Kita harus membawa persembahan! Siapkan persembahanmu yang terbaik, jangan masukkan uang yang busuk, kumal, dan kusam! Itu sama dengan menghina Tuhan! Sekali lagi, Tuhan nggak cari uangmu karena dari ujung rambutmu sampe ujung kakimu, seluruh isi rumahmu, isi dompetmu, isi tabungan ortumu itu Tuhan punya. Tuhan hanya cari HATIMU YANG MELEKAT PADA TUHAN. Saat kamu beri persembahan yang terbaik, kamu sedang berkata,”TUHAN KAU SEGALANYA DALAM HIDUPKU, AKU MENGASIHIMU LEBIH DARI APAPUN JUGA” dan itu romantis di mata Tuhan, sangat menyenangkan Tuhan. Mana Tuhan bisa tahan untuk nggak memberkati lebih banyak lagi sama model orang kayak gini?

  1. Ternyata orang yang mendekat dan diam di pelataran Tuhan akan berbahagia (bhs Inggris: Diberkati)!
-          Nah, jadi CATAT BAIK-BAIK: nggak semua orang yang datang beribadah diberkati, kendati hamba Tuhan berdoa dan memberkati jemaat.
-          Orang yang diberkati adalah orang yang apa? MENDEKAT PADA TUHAN & TIDAK BERANJAK DARI HADIRAT-NYA.
-          Tuhan Yesus pernah mengecam bangsa Israel yang bibirnya memuliakan Tuhan tetapi hatinya menjauh dari Tuhan. Apakah mereka diberkati? Jelas tidak!
-          Saat ibadah, HATI KAMU HARUS TERFOKUS SAMA TUHAN! Bukan datang ke ibadah karena ada “si Budi” atau “si Susi”, atau karena motivasi yang salah lainnya. Percaya deh kalo motivasi kamu benar, maka kamu akan diberkati Tuhan.

  1. Di rumah Tuhan kita akan dikenyangkan dengan segala yang baik!
-          “Dikenyangkan” pada ayat ini, dalam bahasa aslinya juga bermakna: dipuaskan, dipenuhi, dilimpahkan, diperkaya! Renungkan:
-          Mengapa bisa dikenyangkan? Karena lapar dan mau makan!
-          Mengapa bisa dipuaskan? Karena haus dan mau minum!
-          Kenapa bisa dipenuhi dan dilimpahkan? Karena kita datang dan berkata,”Tuhan aku ini bejana yang kosong, isilah aku!”
-          Kenapa bisa diperkaya? Karena kita merendah dan berkata,”Tuhan aku ini miskin, perkaya aku!”
-          Saat ibadah, SIKAP HATI KAMU HARUS BENAR. Waktu mendengar Firman Tuhan, apakah kamu datang untuk DIKENYANGKAN DAN DIPERKAYA? Atau kamu merasa tidak butuh Firman? CATAT: Banyak orang yang datang beribadah dengar Firman cuma seperti dengar dongeng. Yang mereka cari khotbah yang lucu buat entertain jiwa mereka! Mereka nggak mau sungguh-sungguh belajar! Mereka tidak mencari pengajaran (intisari Firman)! Ga ada yang salah dengan pengkhotbah yang lucu, tapi kalo kita cari “Stand up comedy” di gereja, kita salah tempat! Bahkan yang udah notabene pelayan Tuhan, sibuk aja dengan tugas pelayanannya dan nggak merasa perlu denger Firman karena pikirnya dia udah lebih rohani dari jemaat, udah lebih tahu, udah lebih senior… Ini kesalahan besar, Firman itu untuk semua kalangan! Firman itu makanan rohani! Makin banyak kita melayani, makin banyak kita butuh Firman! CATAT (bagi para pelayan Tuhan): Kalo jemaat butuh Firman 1 porsi, kamu butuh Firman 2-3 porsi!
-          Kalo sikap hatimu nggak bener seperti diatas, mana bisa DIPERKAYA? Gak heran pulang ibadah tetap aja miskin rohani, tetap aja pola pikirnya seperti orang dunia, tetap aja sikapnya nggak berubah, tetap aja mentalnya gak berubah menjadi mental anak raja.
-           Gimana bisa DIPUASKAN dan DIKENYANGKAN? Dengar Firman 15 menit aja udah bosen, pengen Firman cepet-cepet selesai. Lama dikit udah ngomel, main HP, cerita kanan kiri. Terang aja, pulang ibadah tetap jadi prajurit loyo, karena rohaninya masih lapar dan dahaga. Di depan gereja didorong iblis udah jatuh… Mengapa? Karena tidak makan sampai kenyang!!!
-          Gimana bisa DIPENUHI apalagi DILIMPAHKAN? Wong baru kena teguran Firman Tuhan sedikit udah tersinggung dan sakit hati. Sebelum bejana diisi penuh, bejana harus dibersihkan dulu baru diisi, dipenuhi, dilimpahkan!
-          Harusnya kita datang dengan hati yang rendah hati, mau diajar, mencari pengajaran, mau diubah paradigmanya, mau diubah sudut pandangnya yang keliru, mau ditambahkan nilai-nilai yang baru, siap diobrak-abrik kesalahan dan kebusukan hatinya, siap dikerat atau dibersihkan dari kotoran-kotoran yang menempel. Nah sikap begitu baru bisa dikenyangkan, dipuaskan, dipenuhi, dilimpahkan, dan diperkaya!
-          Dikenyangkan dengan segala yang baik? Apa aja itu? SEGALA YANG BAIK itu Banyaakkk sekali!!! Itu bisa berarti sukacita dan damai sejahtera, penghiburan, kekuatan, kuasa dan otoritas, berkat finansial, berkat rohani, jawaban persoalan, visi untuk masa depan, dll. Janji Tuhan itu luar biasa buat kita. Baik untuk hidup sekarang, maupun yang akan datang. Lain waktu kita bahas ya!!!

  1. Bait Tuhan itu kudus!
-          Saat ibadah, hormati kekudusan Tuhan. Orang dunia aja tahu menghormati presiden, atau orang-orang penting. Orang-orang kafir bahkan tahu gimana menghormati ilah mereka! Gimana anak Tuhan gak bisa menghormati Tuhan? Saat praise n worship mereka cuek bebek, dan diam aja, ato malah bermain. Saat Firman mereka ngobrol, main HP atau fesbuk-kan. Saat persembahan mereka kasih yang paling jelek dan paling kecil. Mereka pikir Tuhan itu bisa direndahkan? Mana bisa orang model gini minta Tuhan berkati?
-          Tubuh kita adalah bait Allah dan harus kudus. So, saat ibadah minta Tuhan menguduskan dirimu dan hormati kekudusan Tuhan. Ingat, persembahan terbaik adalah TUBUH KITA. Itulah ibadah kita yang sejati (Roma 12:1)

Nah, kalo sikap kamu udah benar, percaya deh Tuhan pasti berkati kamu! Sementara pujian dan penyembahan kamu akan disegarkan, disembuhkan, dipulihkan. Saat Firman Tuhan kamu diubahkan, dikuatkan, dibakar lagi rohnya, diperkaya, dilimpahkan, mendapat jawaban, diberi visi yang baru, dll. Buat yang melayani, saat melayani ada urapan baru yang diberikan, kepercayaan yang lebih besar, talenta yang dilipatgandakan, dlsbnya. Pulang dari ibadah nggak sama lagi, mentalnya baru, imannya lebih besar, hatinya makin kuat, cara pandangnya makin luas, sikapnya berubah, raut mukanya makin cerah.

Setelah kamu menerima kebenaran ini, berjanjilah untuk mengubah sikap saudara, “Dalam ibadah berikutnya, saya gak mau seperti yang dulu lagi. Saya mau berubah.” Ke ibadah ga perlu lagi dipaksa-paksa, “didorong-dorong”, “ditarik-tarik”, ato sampe dimarah ortu. Kesadaran sendiri bahwa ibadah itu penting! Datang dengan sikap hati yang benar. Yah, supaya ibadah kamu nggak sama lagi. Supaya kamu menjadi KENYANG DI RUMAH TUHAN, MENDAPAT YANG TERBAIK, DIPERKAYA, DIPUASKAN, DIPENUHI, DILIMPAHKAN, DIBERKATI, dan BERBAHAGIA!  Amen?

RL, Maret 2013  

MEMAKSA IMAN BERKEMBANG


Untuk memaksa imanmu berkembang, Tuhan memakai tantangan bahkan terkadang kemustahilan! Bahkan mungkin engkau sudah menunggu cukup lama, doa-doamu sepertinya tidak terjawab, logika dan imanmu bertarung dengan sengit memperebutkan posisi dalam hatimu: "Masihkah saya harus percaya pada Allah? Apa yang aku imani sampai saat ini tidak terjadi, bahkan yang aku alami kontradiksi dengan apa yang aku imani dalam Firman Tuhan." Saat itu iman berada pada kondisi yang sangat kritis.. Seakan-akan kita hampir kehilangan iman.. Bisa jadi suatu saat Tuhan membawa kita pada titik seperti itu...

Oooh seperti anak-anak rajawali yang dilempar keluar dari sarangnya oleh Sang Induk.. mereka mengepakkan sayap iman mereka sekuat tenaga tetapi tanpa hasil.. Mereka berteriak sekuat tenaga tapi Induk mereka tidak menolong... Masih haruskah percaya? Oooh sebentar lagi aku akan menabrak batu-batu tajam!!!

Tiba-tiba Firman Allah yang kita baca dan renungkan menjadi kekuatan yang baru! Seperti nutrisi yang disuntikkan ke dalam tubuh yang lemah.. Seperti aliran listrik yang masuk ke perangkat elektronik... IMAN DIAKTIFKAN KEMBALI! Tetapi iman itu tidak seperti sediakala, iman itu telah berkembang lebih besar dari sebelumnya! Mengapa? Karena iman yang ini benar-benar dilatih untuk tidak melihat dengan mata jasmani, tetapi mata rohani!!!

Sang Induk tiba-tiba menyambar anaknya dan menampungnya di kepak sayapnya! Sang anak memperoleh keyakinan yang baru. Sampai tiba saatnya sang anak terbang sendiri dengan keyakinan akan induknya..
Sampai tiba saatnya penggenapan semua visi, penggenapan dari apa yang tidak kita lihat dengan mata jasmani sebelumnya, menjadi kenyataan!

Paksalah imanmu berkembang sampai penggenapan visi itu terjadi!

" Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat." (IBRANI 11:1)

"Segala kemuliaan bagi Allah. Dengan kuasa-Nya yang bekerja di dalam kita, Ia dapat melakukan jauh lebih banyak hal daripada yang berani kita bayangkan -- sama sekali melebihi segala doa, keinginan, pikiran, dan pengharapan kita." (Ef 3:20, FAYH)

#vision

-RL, Februari 2013-

BLESSED TO BE A BLESSING

“Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat.” (Kej 12:2)

Hidup diberkati adalah impian semua orang. Dalam benak mereka, dengan hidup yang diberkati mereka akan menikmati berbagai kesuksesan, kelimpahan materi, dan dapat membeli apapun yang mereka sukai. Sayangnya tujuan sejati dari hidup yang diberkati bukanlah seperti itu. DIBERKATI UNTUK MENJADI BERKAT – adalah rancangan, tujuan, dan panggilan Allah yang sangat luar biasa untuk setiap anak-anakNya – bagi kepentingan kerajaan Allah!

Janji Tuhan diatas sesungguhnya adalah janji Tuhan kepada Abraham. Tetapi saat kita menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, kita menjadi keturunan Abraham secara rohani sehingga kitapun berhak menerima janji tersebut (Gal 3:29)! Bukankah ini luar biasa? DIBERKATI UNTUK MENJADI BERKAT adalah janji Tuhan untukmu juga!

BLESSED

Sebelum Tuhan membuatmu menjadi berkat, Tuhan akan memberkati hidupmu terlebih dulu. Sesungguhnya berkat Tuhan kepada kita tergantung dari respon kita. Bagaimana sudut pandang kita dalam memahami hati Tuhan, berkat Tuhan dan cara Tuhan memberkati kita, dan apa yang harus kita lakukan sehingga tangan Sang Pemberi Berkat itu senantiasa ada di atas kepala kita.

Apakah wadah berkatmu sudah bersih?

Sebelum Tuhan memberkati Abram, ia dipanggil keluar dari negerinya, Ur-Kasdim, menuju negeri yang Tuhan janjikan, Tanah Kanaan (Kej 12:1). Ur Kasdim adalah sebuah kota penyembah berhala. Kota itu seperti Athena pada masa Paulus. Ada dewa yang disembah di mana-mana. Ayah Abram, Terah, dan keluarga mereka adalah para penyembah berhala. Untuk memperoleh berkat yang Tuhan janjikan, kitapun harus keluar dari kenajisan dan mengeluarkan kenajisan dari wadah berkat kita (hati kita)!

”Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib” (1 Pet 2:9)

Pertama, keluarkan pandangan negatifmu tentang Tuhan. Pahamilah sungguh-sungguh bahwa Tuhan itu Pemberi, dan setiap pemberian yang baik berasal daripadaNya (Yak 1:17). Ia adalah Bapa yang baik! Coba perhatikan hidupmu: nafas hidup, kesehatan, kesempatan untuk sekolah, anugerah untuk melayani Tuhan, bukankah itu adalah berkat Tuhan untukmu? Banyak anak-anak Tuhan yang tidak bisa mensyukuri berkat yang Tuhan beri, malah bersungut-sungut dan berbalik menuduh Tuhan adalah Bapa yang kejam. Maka Tuhan berkata, ”Apa yang kamu katakan dihadapanKu akan Kulakukan padamu” (Bil 14:27-30).

Kedua, keluar dari hidup yang lama! Kita tidak bisa memaksa Tuhan memberkati kita jika masih ada kepahitan, iri hati, kecurangan, kenajisan, dan hal-hal yang dibenci Tuhan dalam hidup kita. Dosa menghalangi berkat Tuhan turun atas kita. Banyak pelajar melakukan kecurangan dalam ujian dan meminta Tuhan memberkatinya. Banyak remaja membenci orangtuanya dan meminta Tuhan memberkati masa depannya. Tuhan tidak mungkin melakukan sesuatu yang bertentangan dengan pribadiNya dan FirmanNya! Tidak bisa!

Ketiga, keluarkan motivasi yang salah dari hati kita. Apa motivasi pengabdian kita kepada Tuhan, termasuk berkat yang Ia berikan kepada kita? Untuk kemuliaan dan kesenangan diri? Siapakah yang kita kasihi: Berkat atau Sang Pemberi Berkat? Sekalipun diberi janji yang luar biasa, bukan berkat yang mempesona Abraham, bukan juga fasilitas Tuhan yang ia cari, tetapi ia mengasihi Sang Pemberi Berkat yang memanggilnya untuk tujuan yang besar. Bahkan tindakan yang sangat berani ia ambil: mempersembahkan apa yang paling ia cintai (Kej 22:16-18). Sebaliknya, pemuda kaya yang menemui Yesus ternyata lebih mengasihi berkat daripada Sang Pemberi Berkat, maka berkat itu menjadi pemisah bagi dirinya dengan Tuhan. Berkat yang Tuhan sediakan bukan untuk kita nikmati sendiri dan menjadi orang yang egosentris, tetapi untuk menjadi saluran berkat bagi orang lain. Berkat diberikan bukan untuk menghancurkan hidupmu.
Berkat yang Tuhan beri bukan hanya berkat finansial saja, tetapi berkat Tuhan itu juga berupa kesehatan, hikmat, talenta-talenta, kelebihan-kelebihan yang kita miliki, dll.

Seberapa besarkah wadahmu?

”Pergilah perempuan itu dari padanya; ditutupnyalah pintu sesudah ia dan anak-anaknya masuk; dan anak-anaknya mendekatkan bejana-bejana kepadanya, sedang ia terus menuang. Ketika bejana-bejana itu sudah penuh, berkatalah perempuan itu kepada anaknya: "Dekatkanlah kepadaku sebuah bejana lagi," tetapi jawabnya kepada ibunya: "Tidak ada lagi bejana." Lalu berhentilah minyak itu mengalir.” (2 Raj 4:5-6)

Seberapa besar wadah yang kita siapkan, sebesar itu pula berkat Tuhan mengalir dalam hidupmu.

1. Seberapa besar imanmu kepada Tuhan? Iman memiliki kemampuan menarik berkat yang belum kelihatan untuk terjadi di alam nyata! Ketika melihat bintang-bintang di langit, Abraham percaya kepada janji Allah bahwa keturunannya akan banyak seperti bintang-bintang di langit! Seberapa besar imanmu kepada Tuhan untuk studimu, untuk keluargamu, untuk masa depanmu, untuk pelayananmu? Yusuf mendapat impian/visi  yang besar dari Tuhan. Tidak sedikitpun ia goyah akan mimpinya sekalipun ia harus melalui banyak ujian. Maka pada saatnya Tuhan mengangkatnya menjadi perdana menteri Mesir yang memberi makan bangsa-bangsa saat dunia terjadi kelaparan!

2. Seberapa siap engkau menampung berkat Tuhan? Perumpamaan talenta menjelaskan kepada kita bahwa orang yang diberi 5 talenta, 2 talenta, 1 talenta, diberi berdasarkan kemampuannya. Terkadang seseorang iri melihat orang lain yang dipercayakan banyak, tidak ia ketahui bahwa semakin seseorang dipercayakan banyak, semakin ia dituntut banyak. Dari perumpamaan itu juga kita belajar bahwa untuk memperbesar kapasitas kita diperlukan proses. Dalam proses itulah kita belajar mengelola berkat yang Tuhan percayakan sampai akhirnya berkat itu berlipatganda dalam hidup kita. Abraham mengelola berkat yang Tuhan percayakan sampai ia menjadi sangat kaya! Sebagai pelajar, sudahkah kita mengelola dengan baik: waktu, studi, keluarga, kesehatan, talenta/bakat, uang, dan berkat-berkat lain yang Tuhan percayakan pada kita? Jika kita mengelola dengan baik, maka berkat itu akan berlipatganda! Jika tidak, berkat itu Tuhan berikan pada orang lain!

3. Seberapa siap engkau akan menyalurkan berkat Tuhan itu? Jika kita meneliti kehidupan Abraham, kita akan menemukan: Tuhan memberkati Abraham dalam segala hal (Kej 24:1). Bukan hanya berkat-berkat jasmani, tetapi juga berkat-berkat rohani. Bukan hanya berkat di satu bidang, tetapi berkat di segala aspek hidupmu. Dan Tuhan memberkati Abraham sampai berkelimpahan (Kej 22:16-18). Tuhan rindu mencurahkan berkat bukan hanya cukup atau pas, tetapi berlimpah-limpah (Yoh 10:10)! Berkat yang berlimpah-limpah dalam segala hal itu butuh banyak bejana baru! Jika hanya keluargamu yang jadi bejanamu, maka engkau akan diberkati untuk kapasitas keluargamu saja. Tetapi jika sekolahmu, gerejamu, kotamu juga adalah bejana-bejanamu, maka Tuhan akan mencurahkan berkatNya berlimpah-limpah!


BLESSED TO BE A BLESSING

Sejak Tuhan memanggil Abram, Tuhan telah menetapkannya bahwa ia akan menjadi berkat. Hal ini diperkuat kembali setelah Tuhan mengubah nama Abram menjadi Abraham. Abram memiliki arti “bapa yang diagungkan” (diberkati). Tetapi Abraham adalah “bapa sejumlah besar bangsa” (menjadi berkat). Fokus hidupnya bukan lagi diberkati untuk dirinya sendiri, tetapi menjadi berkat bagi kepentingan kerajaan Allah! Hidup yang berarti adalah hidup yang tidak egois (tidak hidup untuk kepentingan diri sendiri). Tetapi hidup yang dipakai menjadi alat/saluran berkat Allah bagi kemuliaan namaNya dan bagi keselamatan jiwa-jiwa!

Pelajar yang terkasih, Tuhan sudah memberkatimu dengan keluarga, kesehatan, hikmat, talenta-talenta, kelebihan-kelebihan khusus yang ada padamu, juga berkat finansial. Ingatlah tujuan Allah memberkati kita adalah untuk menjadi berkat!
Mulailah untuk menjadi berkat di rumah, sekolah, gereja, masyarakat, dan dimanapun kita berada. Kita bisa menjadi berkat melalui kesaksian hidup kita: perkataan, tingkah laku, kasih, kesetiaan, dan kesucian kita (1 Tim 4:12). Jangan tunggu setelah kita diberkati berlimpah baru menjadi berkat. Mulailah dari hal-hal yang kecil.
Semua itu harus kita lakukan berdasarkan kasih kita kepada Tuhan sehingga BLESSED TO BE A BLESSING – diberkati untuk menjadi berkat – merupakan gaya hidup kita yang konsisten sebagai orang percaya!

Tuhan sudah siap untuk memberkatimu berlimpah-limpah dalam segala hal agar engkau menjadi penggenap rancanganNya pada zaman ini. Pertanyaan Tuhan adalah: SUDAH SIAPKAH KAMU?

”Terlalu sedikit bagimu hanya untuk menjadi hamba-Ku, untuk menegakkan suku-suku Yakub dan untuk mengembalikan orang-orang Israel yang masih terpelihara. Tetapi Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa supaya keselamatan yang dari pada-Ku sampai ke ujung bumi.” Yesaya 49:6

RL, April 2011 
[Revival News Edisi 4 Bulan Mei 2011, Rubrik Bible Focus]

THE KEY OF SUCCESSFUL

“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan. “ (Yeremia 29:11)

Apakah kamu menginginkan keberhasilan? Maukah kamu memiliki hari depan yang cerah?
Adalah baik bagi kita untuk mengerti hal ini: Sebelum kita memimpikan keberhasilan dan hari depan yang indah, Tuhan sudah terlebih dulu merancangkan keberhasilan dan hari depan yang penuh harapan untukmu. Wow! Luar biasa bukan? So jangan kuatir akan masa depanmu karena Tuhan menjamin apa yang telah Ia janjikan. Masa depan sungguh ada dan harapanmu tidak akan hilang (Amsal 23:18).

Tetapi rancangan Tuhan ini tidak secara otomatis terjadi dalam hidup kita. Dalam kehidupan, Tuhan mau kita bekerjasama dengan Dia. Ini berarti ada bagian yang Tuhan lakukan, tetapi ada juga bagian yang harus kita lakukan. Bersyukur, Tuhan tidak membiarkan kita berjalan sendiri. Melalui FirmanNya, Tuhan menunjukkan kepada kita The Key of Successful (Kunci Keberhasilan).

Daniel adalah salah seorang pemuda yang berjajar dengan para pejabat tinggi di pemerintahan kerajaan Babel. Sekalipun ia berada di kerajaan yang tidak mengenal Tuhan, ia mendapat kedudukan yang tinggi. Keberhasilan demi keberhasilan ia raih karena Daniel bekerjasama dengan Tuhan.

The Key of Succesful 1: Takut akan Tuhan

”Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, semua orang yang melakukannya berakal budi yang baik.” (Mazmur 111:10a)

”tetapi kepada manusia Ia berfirman: Sesungguhnya, takut akan Tuhan, itulah hikmat, dan menjauhi kejahatan itulah akal budi." (Ayub 28:28)

Banyak orang mencari hikmat. Mereka tidak mengerti bahwa permulaan hikmat diperoleh dari Takut akan Tuhan! Takut akan Tuhan yang dimaksud bukanlah suatu rasa ketakutan yang ngeri, melainkan suatu rasa hormat dan pengagungan yang dalam bagi kekuasaan dan kepemerintahan Allah atas kekuatanNya, kebijaksanaanNya, kasihNya, sehingga kita menjadikan Dia Raja atas hidup kita. Daniel berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya dengan santapan dan anggur yang biasa diminum raja (Dan 1:8)! Daniel tidak kompromi terhadap segala bentuk ketidaktaatan. Maka sebagai tambahan terhadap pengetahuan yang telah ia miliki, Tuhan menambahkan lagi pengetahuan dan kepandaian tentang berbagai tulisan dan hikmat, berbagai penglihatan dan mimpi. Bahkan saat raja bercakap-cakap dengannya, Daniel didapati sepuluh kali lebih cerdas daripada semua orang berilmu di kerajaan Babel (Dan 1:17-20)!

Dalam kasus lain, Daniel diperhadapkan pada pilihan yang sulit: Tidak berdoa kepada Tuhan selama 30 hari dan dapat tetap hidup ataukah tetap berdoa kepada Tuhan tetapi resikonya kehilangan jabatan dan mati! Daniel lebih takut kepada Tuhan daripada takut kepada manusia. Resikonya ia dilempar ke gua singa, tetapi ia dilindungi, dan justru setelah itu ia malah dipromosikan luar biasa! (Daniel 6)

Bagaimana dengan anak-anak Tuhan yang mengorbankan kejujurannya, ketaatannya, integritasnya demi mendapat jabatan dalam pekerjaan, materi yang berlimpah demi kenyamanan hidup, penghormatan manusia, atau..... ah... nilai bagus dalam studi???
Berapa banyak pelajar Kristen yang mendukakan Tuhan dengan kompromi terhadap dosa dan melakukan kecurangan / ketidakjujuran selama ujian? Dimanakah “Daniel-Daniel”nya Tuhan yang berani berdiri diatas kebenaran sekalipun tidak seorangpun yang melakukannya, sekalipun banyak kesempatan untuk melakukan kecurangan, dan sekalipun banyak tantangan dan besar harga yang harus dibayar? Daniel tidak mempertahankan apapun kecuali ketaatannya kepada Allahnya!

Pernahkah kita diuji untuk tetap jujur dalam hal uang, dalam segala hal yang dipercayakan pada kita, termasuk dalam studi? Tidak tahukah kita, Tuhan hanya menguji ketaatan kita dalam keadaan terdesak untuk kemudian menyatakan apakah kita layak untuk dipromosikan bagi kemuliaan namaNya?

“... TUHAN memperhatikan dan mendengarnya; sebuah kitab peringatan ditulis di hadapanNya bagi orang-orang yang takut akan TUHAN dan bagi orang-orang yang menghormati namaNya. Maka kamu akan melihat kembali perbedaan antara orang benar dan orang fasik, antara orang yang beribadah kepada Allah dan orang yang tidak beribadah kepadaNya.” (Mal 3:16, 18).

The Key of Successful 2: Memprioritaskan dan Mengandalkan Tuhan

Firman Tuhan mengajarkan kita dalam Matius 6:33 dan Yeremia 17:5-9 agar kita memprioritaskan Tuhan dan mengandalkan Tuhan sehingga hidup kita diberkati!

Memprioritaskan Tuhan adalah mengutamakan Tuhan / menjadikanNya nomor satu dalam hidup kita. Banyak anak Tuhan mengorbankan ibadahnya, persekutuannya dengan Tuhan. Padahal justru memprioritaskan Tuhan terlebih dahulu adalah kunci berkat karena kita mencari Sang Pemberi Berkat!

Mengandalkan Tuhan berarti , tidak mengandalkan kepintaran, kekuatan, atau kekayaannya sendiri untuk mencapai keberhasilan,  tidak kuatir dan ragu-ragu, tetapi beriman, percaya, menaruh harapan, bersandar sepenuhnya kepada Tuhan bahwa Ia sanggup melakukan segala sesuatu dan tidak ada yang mustahil bagiNya!

Sudahkah kita memprioritaskan Tuhan dan mengandalkan Tuhan seperti yang dilakukan Daniel (Dan 2:23, 6:11)?

The Key of Successful 3: Rajin / Bekerja keras

“Orang malas tidak akan menangkap buruannya, tetapi orang rajin akan memperoleh harta yang berharga.” (Amsal 12:27)

Mengandalkan Tuhan bukan berarti tidak melakukan apa-apa, karena Tuhan tidak memberkati orang yang malas melainkan orang yang rajin / bekerja keras. Sejak muda Daniel hidup dalam disiplin yang ketat untuk mempelajari berbagai hikmat dan pengetahuan sehingga saat kesempatan untuk menjadi orang pilihan yang bekerja pada raja, ia didapati siap. Bahkan saat ia dituntut untuk dididik dan diajar banyak hal selama tiga tahun, ia berhasil menyelesaikannya (Dan 1:3-5).

Sudahkah kita bekerja sama dengan Tuhan untuk meraih masa depan yang penuh harapan dengan cara bekerja keras di dalam studi kita? Sudahkah kita memiliki kemauan yang kuat untuk menambah wawasan, keahlian, dan pengalaman?

The Key of Successful 4: Motivasi untuk kemuliaan Tuhan

Daniel tidak pernah tertarik dengan harta, jabatan / kedudukan, penghormatan, atau apapun juga (Dan 5:16-17). Semua keberhasilan yang diperolehnya hanya untuk memuliakan Tuhan. Keberhasilan dan kedekatannya dengan raja memberinya kesempatan yang sangat besar untuk memasyurkan nama Tuhan! Dalam setiap kesempatan, saat hikmatnya dibutuhkan oleh raja atau saat ia ditanya raja, ia selalu bersaksi tentang kedahsyatan Tuhannya! Ia bersaksi pada zaman raja Nebukadnezar (Dan 2:27-30), zaman raja Belsyazar (Dan 5:13-30), pada zaman raja Darius (Dan 6:22-29) .

“Beginilah firman TUHAN semesta alam: "Pada waktu itu sepuluh orang dari berbagai-bagai bangsa dan bahasa akan memegang kuat-kuat punca jubah seorang Yahudi dengan berkata: Kami mau pergi menyertai kamu, sebab telah kami dengar, bahwa Allah menyertai kamu!" (Zak 8:23)

“Dan orang-orang bijaksana akan bercahaya seperti cahaya cakrawala, dan yang telah menuntun banyak orang kepada kebenaran seperti bintang-bintang, tetap untuk selama-lamanya.” (Dan 12:3)

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat keunggulan moralmu, kehidupanmu yang patut dipuji, perbuatanmu yang mulia, perbuatanmu yang baik, dan mereka mengakui, menghormati, memuji, serta memuliakan Bapamu yang di surga.” (Mat 5:16, AMP)

RL, Maret 2011 
[Revival News Edisi 3 bulan Maret 2011, Rubrik Bible Focus]